Monday, February 21, 2011

Belajar PKn "Kemerdekaan Mengemukakan Pendapat"

Jum'at kemarin -bertepatan dengan hari 'bank2an' alias praktik perbankan kelas VIII- siswa kelas VII ikutan praktik juga.


Bukan praktik bank, tapi mencoba menyampaikan pendapat berupa saran, pertanyaan atau kritik kepada ustdz/zh (guru) atau pun kepada kakak kelas.
Rombongan (kelompok) berpencar mencari 'korban'. Setiap kelompok (pasangan) dibekali Rubrik Penilaian yang nantinya akan diisi oleh sang 'objek penderita'.


Ya, nda menderita pada pengertian sesungguhnya sih.. beberapa memang menyampaikan hal-hal yang cukup unik dan agak tidak terduga.

Agar lebih jelas, berikut kronologi KBMK (Kegiatan Belajar Mengajar Kami) hari itu:
1. guru membawa plastik transparan (oleh-oleh dari toko fotokopi) berisi kertas-kertas
2. setelah berdoa, guru menyampaikan bahwa hari ini kita akan belajar lebih cepat (bergegas), setelah pendahuluan, pemaparan, tugas ke luar, siswa yang telah selesai dipersilakan berkunjung ke praktik lembaga keuangan di kelas sosial
3. guru menanyakan apakah pernah ada guru yang tiba-tiba mengatakan: "Masukkan buku cetak, buku tulis, fotokopi, dan lain-lain! Siapkan alat tulis! Hari ini kita ulangan!"
Saya bertanya lagi, "Kemudian bagaimana reaksimu?"

Siswa menjawab berbarengan dengan beragam argumen dan ekspresi tubuh+wajah.

"Siapa yang berani menangkat tangan dan coba sampaikan bagaimana pendapatnya pada saat menghadapi kondisi tersebut?", saya meminta siswa memberanikan diri.
Akhirnya ada beberapa siswa yang berani mengangkat tangan dan menyampaikan respon/pendapat yang disampaikan kepada gurunya.


Ini beberapa dari jawaban siswa: 
"Belum dikasi tau, Pak/Bu", 
"Belum siap", 
"Kasih waktu belajar dulu", 
"besok atau minggu depan aja, Pak/Bu.."
Selain berbentuk lobi atau pengunduran waktu, ada juga yang santai (atau pasrah ya?) atau bahkan terkesan sedikit 'menantang':
"Ya udah langsung aja, Pak/Bu"
"Langsung saja. Diundur atau tidak, nanti hasilnya juga sama.."

 3. Guru mengajak berdiskusi singkat tentang bagaimana seseorang atau sekelompok orang menyampaikan ketidaksetujuan tentang suatu hal kepada seseorang atau beberapa orang atau pun kepada lembaga tertentu (pemerintahan, pemilik perusahaan, dll)


4. Guru bertanya dan menambahkan bahasan tentang Kemerdekaan Mengemukakan Pendapat yang merupakan salah satu Hak Asasi Manusia. Berlanjut pada pembahasan tentang jenis/cara mengemukakan pendapat (secara lisan dan atau tulisan) disertai beberapa contohnya.


5. Guru menantang siswa untuk mencoba mengemukakan pendapatnya secara langsung. Guru menjelaskan bahwa secara berkelompok (2 orang/klpk), siswa akan menemui seorang guru/kakak kelas dan menyampaikan pendapatnya berupa saran, kritik atau pertanyaan.
Guru memberikan beberapa contoh dan menjelaskan kriteria penilaian yang terdapat di dalam Rubrik Penilaian.


6. Siswa berangkat, berpencar bersama kelompok masing-masing mencari 'mangsa'. Dengan bekal Rubrik Penilaian, menjalankan misi yang diberikan.


7. guru menanti di koridor depan kelas. Kelompok yang sudah selesai segera melaporkan pelaksanaan misinya. Oya, sebelumnya Rubrik Penilaian sudah diserahkan kepada guru. Guru mewawancara pelapor sambil menyimak hasil penilaian di tangan yang telah diisi serta ditandatangani ustdz/zh atau kakak kelas yang bersangkutan.

Berikut, krikeria penilaiannya:
  1. Mengucapkan salam, 
  2. Memperkenalkan diri dengan sopan dan jelas, 
  3. Mengutarakan maksud bertemu, 
  4. Menyampaikan pesan dengan jelas (mudah dipahami), 
  5. Menyampaikan pesan dengan serius, 
  6. Menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar, 
  7. Menutup perjumpaan dengan salam dan berterima kasih, 
  8. Berpenampilan rapi
(bersambung ya..)

Thursday, February 17, 2011

Sekilas Sekolah kami : SMART Ekselensia Indonesia

 

(Sekolah Menengah Akselerasi InteRnaT) berasrama,  bebas biaya - dibangun atas prakarsa dan kerja keras punggawa-punggawa Dompet Dhuafa Republika tahun 2004.
Pejuang -pendidikan- 'kecil' kami diseleksi dari penjuru negeri:
Sumatera Utara: Medan,Asahan
Riau: Pekanbaru, Tampan,
Kepulauan Riau: Batam,
Sumatera Barat: Padang, Bukittinggi, Solok, Sijunjung, Sawahlunto, 
Sumatera Selatan: Palembang, Banyuasin,
Lampung: Gisting Bawah, Metro, Tanggamus,
Banten: Labuan, Lebak, Ciomas, Ciputat, Tangerang,
DKI Jakarta: Jakarta Utara (Warakas) , Jakarta Barat (Grogol), Jakarta Selatan (Keb. Lama), 
Jawa Barat: Sukabumi, Bogor,  Depok, Bojong Gede, Cibinong, Garut, Bekasi, Bandung, Ciamis, Cirebon,
Jawa Tengah: Kebumen, Sragen, Semarang, Purwodadi, Surakarta, Sukoharjo, Solo, Magelang, Wonogiri, Pemalang, 
DI. Yogyakarta: Sleman, Gunung Kidul, Bantul, Yogyakarta,
Jawa Timur: Kediri, Lamongan, Surabaya, Mojokerto, Jember, Madura (Sampang), Sidoarjo,
Bali: Karangasem, Tabanan, Buleleng, Denpasar, Singaraja,
Kalimantan Selatan: Banjarbaru, Banjarmasin,
Kalimantan Timur: Balikpapan, Bontang, Samarinda,
Sulawesi Selatan: Polewali, Makassar,
Sulawesi Tengah: Banggai,
Maluku: Ambon, Tual,
Nusa Tenggara Timur: Waingapu, Sumba Timur,
Nusa Tenggara Barat: Mataram, Lombok Barat, Lombok Tengah
Papua Barat: Sorong,
Irianjaya: Jayapura (Sentani),(Abepura), dll
Khas Kami :
Moving Class (siswanya nomaden)
Booksharing di apel pagi (2 x per pekan untuk siswa -selasa & jum'at, 1x per pekan untuk guru-kamis),
Tilawah 'ting tung ting tung' Pagi (setiap pagi sebelum mulai belajar, seorang siswa memandu siswa di kelas lewat pengeras suara)

KISS (Karya Ilmiah Siswa SMART Ekselensia Indonesia) + Sidang - (tugas akhir siswa SMA sebagai salah satu syarat kelulusan - didampingi oleh guru pembimbing dan diuji oleh 2 orang guru penguji)
Trashic (grup musik dari barang bekas)

Degung, angklung, dan arumba (sundaan)
Cipam (Kucing Satpam - betah banget di pos security)
Cipel (Kucing Apel - hampir setiap hari ikutan apel pagi)

Wednesday, February 9, 2011

Belajar PKn: HAM "Seberapa Nakalnya Kami Waktu Kami Masih Kecil"

Ampuuuun..
:))

Wah macem-macem deh kata yang terucap waktu membaca 'pengakuan' siswa-siswa saya ini.

Ini adalah sebagian kisah/hasil proses pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan di sekolah kami. Kalau nda' salah, hari Jum'at tanggal 3 Februari 2011.

Awalnya kegiatan ini dimaksudkan untuk mengenali sekaligus mengidentifikasi jenis-jenis pelanggaran HAM yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Kemudian, berlanjut kepada serunya eksplorasi 'besar-besaran' dari bolang-bolang nusantara nan lucgu kesayangan ayah ibu.

Kertas berukuran setengah halaman A4 ternyata bisa 'dimuati' alias memuat dua tiga empat cerita, lima sepuluh dua puluh kisah sampai lebih dari 35 macam cerita kenakalan di masa kecil.

Mulai dari yang berkenaan dengan , benda tak hidup, dan cerita yang berkenaan dengan waktu (pagi, siang, sore, malam, saat hujan, istirahat, dll), tempat/lokasi khusus (sekolah, rumah, lapangan, sungai, pantai, sungai, Masjid, dll), tumbuh-tumbuhan, hewan ternak, serangga, bahkan sampai calon hewan juga termasuk di dalam barisan 'korban' kenakalan pendekar-pendekar cilik ini..

"Sambil nulis, sambil istighfar ya.." itu pesan saya saat menemani anak-anak bangsa ini bernostalgia dengan masa kecilnya.
Yaa, mau bagaimana lagi, wong sudah terjadi.. nah kalau sudah insaf ucap alhamdulillah.."


Beberapa cerita itu ingin saya bagi dengan teman pembaca "Sosial Berkarya".

selamat bernostalgia.. (maaf ya.. msh diolah datanya, kendala di pemasukan data)


English Learning Time: "Is Seven Years Enough?"

(This article wrote -as an assignment in English Course 4 teacher- after we watched the news using English)

***

It's an odd news about a suspect and even a prisoner, his name is Gayus Halomoan Tambunan. He succeed to make people surprized of what he did in his young age. After he corrupted big sum of the tax money and becoming prisoner, he could travel around freely.

As we know, this bad taxman admitted that he went out from the Brimob jail 68 times. In average it means almost 20 timesin a month during his punishment.

And now, this fact triggered someone from Gorontalo, SUlawesi -that also ever be in jail- to make a song about Gayus action. The title of the song is "If I were Gayus Tambunan". People -who are angry about what Gayus had done- like this song. I think it because the song is a kind of reflection of our law and bad system in Indonesia.

In fact, after all what he had done, we have to accept, have to face the reality, that the court only gave vonist for him to be in prison for seven years. Is it enough??

Monday, February 2nd, 2011

Monday, February 7, 2011

English Writing Learning: "The Soundless RENGAT"

Sultan Sjarif Kasim II, that was the sign that I read when we arrived in Pekan Baru, Riau, two weeks ago. Fresh air that I could breath made me feel comfort to be in this new place that I come to.

The Travel agent-man (driver) had wait for us for several hours because of the delayed schedule. I thougt his eyes might tired looking for us. as we were hungry, the driver took us to a Padang restaurant, accross his office. The restaurant was small, simple without any wall, plus the heat from the sun. But, the driver said we can taste delicious foods there. His word was, "The taste is good." And, yes, he was not lying. The price was also friendly to us.

After the afternoon lunch, we went back to the car and continue our journey to Renagt, the small city in Riau. It was almost six hours spent to reach this small city. Finally, late in the night, we arrived in Hotel Danau Raja, Rengat.
Yup, it really is in front of beautiful small lake that shining by the light of the moon. Later, in the morning we could see the lake clearly.

(to be continued because of meeting call)

(November 2011)