Wednesday, January 26, 2011

Perjalanan Tahap II “Maybe it was an ordinary day for other people. But for us, that day was more…”


Fitrah ga’ tidur?”. “Ga’ Ustadzah, ga’ ngantuk”. Jawab salah satu siswa yang tidak mengikuti jejak temannya. 
 
Tidak mengapa,” pikir saya. Mungkin ia termasuk golongan yang sulit tidur di kendaraan atau merasa sayang melewatkan perjalanannya tanpa menikmati bangunan-bangunan dan pohon-pohon ‘berlarian’ di sisinya.


Dalam perjalanan pulang yang ‘sesunguhnya’, tak terelakkan lagi. Jasad anak-anak tangguh ini sudah menagih haknya untuk beristirahat. Dengan gaya dan posisi yang serupa tapi tak sama dalam segala keterbatasan tempat, satu demi satu, atau lebih tepatnya hampir segera setelah bus melaju -pada perjalanan pulang tahap kedua ini- dengan serta merta anak-anak ini pun mengejar laju bus dengan berlayar menuju samudera mimpi. Tak terkecuali ‘mister’ Fitrah.


Perjalanan ini adalah perjalanan pulang tahap ke dua di hari yang sama. Tahap pertama sebenarnya dilalui dengan biasa saja, sampai... Satu demi satu, meter demi meter, mungkin sampai lebih dari seratus meter berbaris puluhan kendaraan dari berbagai merk dan ukuran.

Sebelumnya tidak terlihat tanda-tanda keganjilan pada bus besar yang kami tumpangi. Namun, seiring terbenamnya matahari dan saat kami memutuskan untuk menunaikan kebutuhan ruhani, kami temukan bus kami tidak mau mematuhi tuannya lagi. Ia tidak mau menyejajarkan badan tegapnya di sisi Rumah Allah melainkan lebih memilih berpose di tengah jalan raya puncak yang tidak seberapa lebarnya jika dibandingkan dengan jalan protokol ibukota yang memiliki empat atau lima lajur.

Hari sudah mulai gelap, bus rombongan yang lain sudah akan melanjutkan perjalanannya. Namun nampaknya bus kami belum menunjukkan ‘kemajuan’.

Tidak mungkin rasanya memindahkan 50 anak ke bus tetangga”, pikir saya. Akhirnya kami memutuskan untuk menunggu. Yap!, menunggu datangnya ‘keajaiban’, menunggu patuhnya bus kami pada sang nahkoda.

Faktanya, tidak cukup dengan berdoa agar bus kami segera 'insyaf' dan sadar akan tanggung jawabnya untuk mengantar kami pulang melainkan Allah meminta untuk mencurahkan konsentrasi kami pada hal lain. Agak tersentak saya teringat ‘Kaka’, salah satu siswa yang tidak dalam kondisi baik selama perjalanan itu. Di manakah ia gerangan?

Sejak awal keberangkatan panitia telah menyiapkan obat-obatan serta alat dan bahan yang dibutuhkan untuk memastikan kami semua dalam keadaan sehat dan nyaman selama perjalanan. Namun, tidaklah kita mengaku beriman sebelum diuji bukan?

Suhu yang semakin turun di kawasan itu rupanya semakin membuat Kaka –siswa yang saya cari tadi- perlu mencari perlindungan. Namun ternyata tidak. Ia hanya duduk di teras Masjid bersama teman-temannya.

Di dalam aja Ka..”, seru saya. Ia pun masuk dan memilih tempat yang cukup terlindung dari tiupan angin nan penuh tenaga penurun suhu tubuh. 
 
Dingin rupanya tidak hanya menggigit Kaka, Koko –yang berperawakan lebih besar dari Kaka- pun terlihat semakin membutuhkan tambahan peralatan penghangat dibanding saat kami masih berada di dalam bus ‘tercinta’. Koko memutuskan untuk mengambil tempat yang ‘ramah’ di bagian dalam Masjid dan menggulung tubuhnya. 
 
Peralatan dan bahan pencegah ketidaknyamanan ternyata tidak cukup kami bawa. Termos atau alat penghangat lainnya tidak turut serta bersama kami.

Di mana kira-kira ada warung tenda yang menyediakan minuman hangat ya?”. Sedikit terburu-buru saya melihat sekeliling. “Alhamdulillah” saya segera menujunya.

Dengan lalu lintas yang cukup ramai, agak sulit untuk bisa segera sampai di seberang. Segera setelah menemukan sang pemilik warung, saya memesan dua gelas –yang akhirnya dibungkus plastik- teh hangat untuk Kaka dan Koko. Syukurlah, kondisi mereka berdua sedikit membaik setelahnya.

Tak berapa lama, bus rombongan yang bersama kami di Masjid sudah akan berangkat. “Ada yang lihat Kaka?” saya bertanya pada siswa dan guru di atas bus tersebut. “Ga' ada Ustadzah,” jawab salah seorang dari mereka. Agak bingung saya kembali turun dan mencari keberadaan Kaka di antara teman-temannya. Dalam kondisi perut kosong dan tanpa kepastian, kami mengiringi kepergian bus itu dengan tatapan penuh doa dan harapan.

Bagaimana Ustadz?”, tanya saya kepada seorang guru yang masih tinggal bersama kami. “Kita ke rumah teman saya dekat sini, di belakang pasar,” jawabnya. Sambil bertanya-tanya, saya segera mengajak para siswa untuk mengikuti seorang Bapak yang rupanya juga berada di Masjid yang sama tempat kami 'bernaung' selama ini. Ia menjunjukkan jalan bersama seorang anak laki-laki berusia sekitar 9 tahun.

Sang Ustadz sepertinya menuju bus, sedangkan saya mampir sebentar untuk membeli sesuatu.

Setibanya saya -setelah tengok kiri kanan mencari jejak dan bertemu Sang Tuan Rumah- di tempat tinggal yang dimaksud, saya menemukan para siswa -yang dalam kondisi lelah, lapar, dan mengantuk- masih dalam posisi menunggu. Betul, mereka, siswa angkatan 5 dan sebagian angkatan 4 SMART EI -dengan ketegaran dan kesabarannya- masih menunggu... menunggu kabar baik dari Ustadznya. Namun, kali ini ada hal lain yang ditunggu..

Malam semakin larut dan waktu sudah menunjukkan pukul sembilan lewat..

Alhamdulillah.. setelah sebelumnya perut anak-anak dihangatkan dengan bandrek (minuman jahe khas Jawa Barat, juga dengan rasa yang khas), datanglah hidangan yang insya Allah mampu mengisi perut kami dengan lebih 'serius'. Mie instan hangat lengkap dengan nasi dan saus sambalnya.. “ Srluup... sruulp...Rasa dingin yang telah berkurang dengan posisi duduk yang rapat -karena keterbatasan tempat- semakin memudar. Subhanallah.. Sesungguhnya sesudah kesulitan ada kemudahan.. Terima kasih Bapak dan Ibu.. (Oya, juga rekan kecil..) Semoga Allah membalas kebaikan kalian..

Sekitar lima puluh orang berjalan melewati jalan becek dan menelusuri gang sempit khas pasar tradisional. Langkah kami rasanya sudah sangat mantap. Mantap untuk bertemu 'Sang Penyelamat Besar'. Tap. tap.. tap..

Sssstt.., jangan bilang siapa-siapa ya... Ini rahasia..!” Sebenarnya, sebelum mangkuk demi mangkuk mie dan bakul demi bakul nasi dihidangkan, sang Ustadz sudah memberi tahu saya bahwa bus 'penyelamat' telah datang. Namun ia berpesan untuk menahan informasi tersebut agar tidak merusak konsentrasi para siswa dalam makan dan penantiannya.  : )

Sesampainya di bus.. “Alhamdulillah...” sepertinya tak ada kata lain. Karena tak lama setelah itu (kembali saya sampaikan), satu persatu -atau bahkan serentak- Koko, Anto, Dika, Diki, Dana, Raya, Sholeh, Yovi, Fikri, Fadla, Razi, Rano dan teman-teman -bahkan Fitrah pun tak ketinggalan- mengambil posisi siap untuk berlayar di samudera mimpi. Dengan gaya yang serupa tapi tak sama -dengan segala keterbatasan tempat- mereka berusaha meneguhkan diri bahwa mereka telah berhasil hari ini.. 
 
Outbond 'Hijau' kali ini telah dilalui dengan teriakan, keseruan, kekompakan, curahan tenaga serta kesatuan strategi seluruh siswa SMART Ekselensia Indonesia angkatan 1 sampai 5. Mulai dari ber' MEREKETE' ria, mengangkat tongkat panjang, terjebak dalam ikatan tangan-tangan sendiri, berusaha untuk 'Stand Up Together, menunjukkan pengorbanan dalam 'Folding Mat', tersangkut dalam 'Spider Web', tersesat di rimba 'Flying Fox', sampai perang strategi dalam operasi pengamanan api lilin -dari serbuan senjata air lars panjang kakak-kakak instruktur- untuk menyalakan api unggun di tanah lapang. 
 
Jadilah seperti RAJAWALI.. terbang mengangkasa menggapai mimpi dalam kekuatan perjuangan penuh kebersamaan.” pesan sang Kakak

(catatan: tokoh-tokoh dalam kisah ini nyata adanya namun menggunakan nama pinjaman)


Oya, ngomong-ngomong, Kaka di mana ya..?”


Bogor, 12-13 April 2010
Ditulis untuk rubric CINTA (Cerita Sekitar Kita) majalah Pancaran (angk. V SMART EI)

SEKOLAHKU, PERJUANGANKU, KEBAHAGIAAN MEREKA

Sepuluh juta rupiah

Sebuah angka yang fantastik. Mungkin tak pernah terbayang sebelumnya di benak anak-anak ini. Namun itulah angka yang mereka dapatkan. Mereka adalah para pejuang harapan, penjelajah hari penuh peluh dan perjuangan, demi kebahagiaan orang tua yang mereka kasihi, agama, dan bangsa yang – ingin – mereka banggakan.

5 Maret 2009 semua siswa SMART Ekselensia Indonesia (SMART EI) menjalani aktivitas seperti biasa. Bangun pagi saat matahari belum tersenyum, memanjatkan syukur di rumah Allah nan syahdu, membekali jasmani dengan sepiring nasi, apel pagi, serta memenuhi hati dan isi kepala mereka dengan hal-hal baru. Kamis itu merupakan hari yang biasa saja, hari berseragam putih biru atau putih abu-abu untuk yang sudah menengah atas.

Namun tidak sama, bukan hari biasa bagi Fajar, Indra, Cholis, Riza, Dony, Faisal, dan Makmun, keenam personal ‘The Amburadul’ - salah satu tim Trashic (Trash Music - menggunakan alat musik dari barang-barang bekas) SMART EI, yang seluruh personilnya merupakan angkatan keempat - yang masuk ke sekolah ini saat Ibu Kota negara sedang mempersiapkan Pemilihan Langsung pertama untuk menentukan orang nomer satu yang akan membenahi kota mereka. Hari itu mereka berangkat dari gedung biru – sederhana - tempat mereka menjalankan sunnah Rasul mulia, menuju gedung biru lainnya - nan megah menjulang - di belahan Selatan Jakarta. Itulah gedung TransTV, salah satu stasiun TV swasta yang akan menjadikan mereka salah satu bintang dalam acara pengeksplorasi talenta, dikomandani oleh Ari Untung. “GONG SHOW”, nama acaranya.

Tak disangka, tak dinyana, hasil penjurian dari tiga pekerja seni (Olga Syaputra, Adul, dan Komeng) menghasilkan sebuah nama tim yang tak dikenal, ‘The Amburadul’. Nama itu menggema ke penjuru penjuru negeri - sebelas hari setelah pengambilan gambar - melalui bantuan alat canggih besar yang menggantung gagah di angkasa. Anak-anak ini berharap kabar membanggakan dan membahagiakan itu sampai ke kediaman orang-orang yang mengasihi mereka di Tangerang (Banten), Bandung (Jawa Barat), Bantul (Yogyakarta), Sragen (Jawa Tengah), Palembang (Sumatera Selatan), dan Waingapu (Nusa Tenggara Timur).


Sekolahku, perjuanganku, kebahagiaan mereka

Ini mungkin kata-kata yang menjadi kunci membuka hati untuk mau ‘berputar’, ‘berguling’, atau bahkan ‘bersalto’ dari tanah kelahiran menuju tanah yang belum pernah dicium baunya, belum diketahui sejuk ataukah panas, atau bahkan belum diketahui subur ataukah kering kerontang.
Langkah perjalanan menuju dunia baru yang ditunggu memang tak semudah dulu. Tak semudah ketika ibu membuatkan sarapan di pagi hari, menyiapkan seragam, mengantar kepergian, menyambut di depan pintu setiap pulang sekolah, dan menemani di setiap gelap malam. Tak semudah di kala ayah mengangkat tinggi, menemani belajar mengendarai sepeda, dan mengusap kepala ketika terjatuh.

Mungkin itulah penggalan suara hati siswa-siswa kami, siswa SMART EKSELENSIA INDONESIA yang sebagiannya berasal dari belahan waktu yang berbeda.

Pendidikan berkualitas menjanjikan?

Janji yang dinanti-nanti hasilnya di kemudian hari. Di saat anak-anak mereka kembali ke pangkuan, di saat kepala anak-anak itu tak lagi lebih rendah dari cuping hidung ibunya.

Setiap ibu tidaklah tahu akan jadi apakah anaknya kelak. Namun setiap ibu tahu bahwa dirinya memiliki secercah harapan dengan kelahiran anaknya di muka bumi, dari sebuah dinding yang kokoh yang berada di rongga perutnya.
Latar belakang kehidupan keluarga yang kurang menjanjikan membuat anak-anak petualang ini mencari janji yang baru. Janji dalam hati mereka sendiri bahwa mereka akan menggapai dan meraih hidup yang lebih baik, lebih indah, yang akan dipersembahkan untuk orang-tua, kakak, adik, dan orang-orang yang menyayangi mereka.

Konsep pendidikan seperti apakah yang diharapkan dapat memenuhi janji hati ini?

Menyiapkan generasi pemimpin memang tak seperti membuat telur mata sapi. Perlu banyak hal yang harus dipikirkan, dirancang, dikerjakan, serta dicari tahu sejauh mana perkembangannya untuk kemudian diputuskan langkah terbaik selanjutnya.

Bagaimana dengan SMART EI, sekolah dengan kekhasan ini beberapa bulan lagi menjelang ‘menetaskan telur’ yang telah hampir lima tahun ‘dierami’. Bagaimanakah hasilnya? Hal yang mendegupkan jantung ‘pengeramnya’ lebih kencang, bahkan mungkin jauh lebih kencang dari yang dirasakan di hari penyambut angkatan pertama ini memasuki halaman sekolah binaan Dompet Dhuafa Republika ini – begitu nama lembaga zakat ini kala itu.

Dua bulan, atau tiga bulan lagi, kelihatannya bukan jumlah hari yang menjadi permasalahan. Hal yang menjadi perhatian terbesar adalah akankah mereka mampu bersinar, tetap bertahan menjadi pembelajar dan muslim sejati, serta menjelma menjadi ‘ayam jago’ yang mampu tegak berdiri menghadapi dunia di hadapan, dan memberi arti lebih bagi orang-orang/masyarakat di sekitarnya. Hal yang menjadi harapan dan doa yang menggema ke langit tinggi dari atap-atap rumah mungil di berbagai penjuru Indonesia.

Bekalan berupa pendidikan akademik, pendidikan ruhani, akankah cukup bagi mereka kelak? Ataukah mereka memerlukan sedikit tambahan asupan sebagai penjaga hari. Penjaga diri dan keluarga mereka. Keterampilan hidup telah mereka pelajari, keterampilan intrapersonal maupun interpesonal.
Bagaimana dengan keterampilan kerja? Sudahkah mereka memiliki bekalan? Ya, secara teori pastinya pernah mereka pelajari atau mereka ketahui dari guru atau buku bacaan yang tersedia di perpustakaan indah tercinta. Perlukah anak-anak ini memiliki pengetahuan keterampilan kerja tidak hanya secara kognitif namun dilengkapi, ditunjang oleh pengalaman psikomotorik yang dapat mereka aplikasikan di dunia ‘nyata’ nantinya.

Menjahit tangan, mengesol sepatu, mencukur rambut, menggunakan alat-alat pertukangan, alahamdulillah telah mereka pelajari dan praktikkan. Apakah sudah cukup, ataukah kita perlu menambahkan lebih serius lagi? Jawabannya kami nantikan dari para pemegang kebijakan dan tentunya bantuan dari para donatur/sponsor yang bersedia menjadi investor bagi kemajuan bangsa ini melalui manusia-manusia pembelajar, pejuang bagi keluarga, masyarakat, dan bangsa yang kita selalu – ingin – mereka cintai.

***
Rabu, 15 April 2009 - dalam bilangan enam menit di siang hari -, Makmun, Indra, Riza, Dony, Fajar, Faisal, dan Cholis kembali berharap dapat membuat orang-orang yang mereka cintai bahagia dan bangga demi melihat buah hati mereka tampil di sebuah acara edutainmen - dengan tokoh lucu nan melegenda - di Trans7, Laptop si Unyil. Juga dengan perantara benda besar tergantung tinggi di ruang megah tak bersekat menuju Tangerang (Banten), Bali, Bandung (Jawa Barat), Bantul (Yogyakarta), Sragen (Jawa Tengah), Palembang (Sumatera Selatan), Waingapu (Nusa Tenggara Timur).

Puisi Berantai



Berikut merupakan puisi yang disusun oleh siswa Angkatan V (lima) plus. Sudah cukup lama menghuni komputer kelas, sayang kalau nda' dimanfaatkan. Karya ini merupakan kegiatan pembuka dari materi pelajaran IPS Terpadu tentang Unsur Fisik Indonesia.
Masing-masing puisi diramu dari pemikiran dan ide beberapa siswa (per kelompok).
Setiap kelompok membentuk barisan menghadap papan tulis. Siswa terdepan memegang spidol dan siap menuliskan satu baris kalimat sesuai judul puisi yang telah diundi sebelumnya. Setelah selesai, ia menyerahkan spidolnya kemudian menuju ke bagian paling belakang barisan kelompoknya.
Sang pemegang spidol hanya diberikan waktu lebih kurang (kalau nda' salah) satu menit untuk berpikir dan menuliskan kalimat untuk dirangkai oleh rekan satu kelompoknya.
Berdasarkan sejarahnya, puisi-puisi ini dibuat di hari terakhir bulan ketiga tahun 2009.
Selamat menikmati..   :)


Puisi berantai kelas IA

RAJA
oleh : hafid dzulfikri, tri wanto, eri tristanto, ahmad rey fahriza, ahmad malik abdul aziz

Oh Raja
engkaulah yang berkuasa
engkau yang mulia
engkau sang pemimpin
engkau raja yang bijaksana

oh rajaku..
engkau adalah pemimpin bagiku
raja dari segala raja
yang selalu berwenang
pemimpin rakyat jelata yang berwibawa dan bijaksana

oh raja
kau benar-benar hebat

PULAU
oleh: haidar junda rabbani, desnawan linggarjati setioroso, isnan taufikkurrahman, hidayatullah

Oh pulau,
kau tempat kami tinggal
tempat kami hidup
dan tempat kami menuntut ilmu

pulau seribu pulau
pulau tempat suka dan duka
pulau tempat kami lahir sampai mati
pulau suatu hari nanti engkau akan tenggelam
engkau daratan yang indah dan permai

berjuanglah wahai pulau

BUMI
oleh: fidhar santosa, m. sasa jayeng basundoro, ahmad beni, adi rianto, m. reza fadhillah

Oh bumi...
apa yang terjadi
engkau hancur
karena pemanasan global

oh bumi..
apa yang telah kau lakukan
engkau telah mengamuk
hingga manusia menjadi korban

kami memohon!!!
padamu bumiku
janganlah begitu
kami akan melindungimu

saat ini daku lagi bingung
memikirkan semuanya????

COKLAT
oleh: abdullah aslam, rizky adhi prabowo, muzaki ahmad, aufa fikri hanubun, ariansyah, panji laksono

Coklat kau begitu enak
warnamu sungguh menarik
menghiasi bumi....
seperti ini....

aromamu yang membuatku terpikat
rasamu menghilangkan rasa penat
di dadaku
hanya ada kamu coklat

oh coklat.....
kau membuatku terpikat
aaaa......... lezat...


Puisi berantai kelas IB angk. 5, SMART EI
010409

TIKUS
oleh: ahmad darmansyah, m. yunus maulana, tan malaka hari sadewa, ibrahim akhmad isa, mitra pargantian

Tikus...
Gigi bagaikan koin 100 rupiah
bulu sehalus permadani
kau selucu tokoh Jerry
Walau bagai Bapak Koruptor

oh tikus...
betapa rakusnya kau
kau adalah buronan ular
kau bertahan hidup secara diam-diam
mengambil hak orang lain
dan memakan hak orang

KELAPA
oleh: nur syahid, bayu nova ridho taufiqi, fachry ali firdaus, ridho afriyan, hidayatullah

Batokmu seperti kepala
dalammu lembek-lembek
semua bagian tubuhmu berguna
oh isimu kelapa...
bila dimakan rasanya seperti nyes.. kres...

kelapa kau menyejukkan jiwa
menyenangkan hati
susah payah kau kupanjat
dan kupetik buahnya
lalu kujatuhkan satu per satu
lalu kukupas dengan gigi-gigi
sakiiittt sekali..

DAUN
oleh: m. ihwanul muslimin, eko ardianto, hafizh fathurreza prabowo, ahmad romdani, rizky fradana

daun...
tergoyang-goyang oleh angin
terangkai dengan batang
hijau...
diterpa angin dihias embun

oh daun...
kau bagian dari kehidupan
terkena angin, air, hujan...
dan bagaikan penghias di alam semesta

LEMARI
oleh: aditia perkasa, ahmad pratomo adam, hanif syaifurrohman, ufrizaldi

Lemari...
kau adalah benda yang sangat berguna
kau bisa menyimpan baju

kalau tidak ada kau apa jadinya
kau melindungi semua apa saja
yang ada dalam tubuhmu
kau terbuat dari kayu pilihan

oh lemari...
kau adalah barang kesayanganku
semoga kau abadi selamanya
aamiin...


Puisi yang telah diracik ini kemudian dibacakan dengan cara seksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya oleh perwakilan masing-masing kelompok, diiringi derai tawa dari rekan sejawat dan yang pasti .. gurunya juga..
:)


Belajar PKn: Proklamasi, temanya "Soekarno - Hatta Versi Kami"

Jumat siang bermandi keringat nan seru. 23 okt 09,antara pk.13-15.


Pasangan Soekarno Hatta versi 1a didapat dr 16 krtas lipat. 12 siswa dapat kertas kosong, 2 siswa yang beruntung dapat kertas brtuliskan nama pasanganproklamator negara ex Hindia Belanda ini.
Seru!!

Setelah semuanya mendapat kertas, masih ada kertas yang -sengaja- tersisa, siswa diberi ekstra kesempatan untuk menukar kertas yang dipegang dengankertas yang masih   tersisa. (biar seneng n nda' penasaran)
Sebelum semua siswa mendapat kertas, tidak ada yang boleh membuka lipatan kertaskecil yang dipegang. (sampai diinstruksikan). Bagi yang membuka sebelum diminta..nanti teman2 akan -dengan senang hati- mencuil alias mencubit pipinya...
dan ternyata..

ada yang sudah bilang "KOSONG.."
"Wah, menyalahi perjanjian ni.. berarti ia layak dapat sentuhan kecil -lan buanyak- di pipi dari teman-teman tersayang (rame-rame ) - duh.. sakit ga ya..

Dua siswa beruntung dari kelas IA yaitu dua orang siswa yang seneng sekaligus malu-malu, duduk bersebelahan, mereka.. Fatih dan Bayu...!!
anak yang sama-sama besar (relatif tinggi dibandingkan yang lain)

Dua siswa beruntung dari kelas IB yaitu dua orang siswa yang kelihatan lebih sumringah (dilengkapi dengan TOS bareng) juga sambil sedikitmalu-malu,dan ternyata mereka juga duduk bersebelahan, MEREKA, A..DA..LAH.. (gaya Sing aSong).. Iqro dan Robby...!!
anak yang sama-sama imut (relatif paling imut dibandingkan yang lain)

Prosesi upacara proklamasi ala kami berlangsung dadakan dan serba cepat..

- terpilihnya sang 'proklamator'
-MC pilihan - berebutan si.. - Mr. Agung Pramudio (dari Solok, Sumbar)& Mr. Ahmad Rofa'i (dari Lampung) - IA, dan Mr. Ahmad Johan Pondaag(dari Jayapura)
- pembacaan teks Proklamasi (berwajah dan tanpa wajah - ada yang malu..)
- sambutan dari pejabat setempat : Mr. Genta Maulana Mansyur (dari Sukabumi) - IA, dan Fathan Nuraddin (dari Lampung)
-Pengibaran bendera Merah Putih oleh Mr. M. Fardin, Mr. Gilang, n Mr.Irwan - IA,Mr. Syafrudin, Mr. Faisal (dari Sumba, NTT), dan Mr. Ridho (dari Medan)

Proyek Kelas Sosial Mencari Modal Tanpa Modal (abstrak)


ABSTRAK

Pembekalan keterampilan hidup merupakan kebutuhan bagi setiap peserta didik. Tidak lagi hanya berorientasi pada materi (teori) namun perlu ditunjang dengan pengalaman langsung. Baik berupa simulasi maupun kerja nyata.
Proyek Kelas Sosial “Mencari Modal Tanpa Modal” dilaksanakan dengan tujuan memberikan pengalaman berwirausaha, menambah pengetahuan tentang kewirausahaan, memotivasi siswa untuk berani menghadapi hidup tanpa harus menjadi pegawai, menumbuhkan karakteristik kewirausahaan, menumbuhkan keterampilan sosial (kemampuan bersosialisasi), dan menumbuhkan kecerdasan emosional siswa.
Penelitian ini dilaksanakan dalam dua tahapan. Tahap pertama disebut sebagai Proyek Jilid I (satu) dan tahap kedua disebut sebagai Proyek Jilid II (dua). Pada Proyek Jilid I siswa ditantang untuk menghasilkan ide-ide usaha baik dagang maupun jasa sederhana yang dilakukan dengan tujuan mendapatkan modal tanpa mengeluarkan uang sedikit pun. Proyek ini dilaksanakan di sela-sela waktu senggang siswa, baik di sekolah maupun di asrama, baik kepada sesama siswa, guru, maupun karyawan Lembaga Pengembangan Insani (Lembaga Pengembangan Insani Dompet Dhuafa). Proyek Jilid II dilaksanakan dengan tahapan awal mengumpulkan ide usaha, presentasi dan diskusi ide usaha, proses produksi, promosi, dan pemasaran. Penelitian ini menggunakan beberapa instrumen penelititan, di antaranya yaitu buku pedoman proyek, angket evaluasi siswa pelaksana, angket evaluasi konsumen dan rekanan, dan wawancara.
Berdasarkan data yang diperoleh, peneliti mendapatkan hasil penelitian bahwa siswa mendapat pengalaman dan pengetahuan kewirausahaan serta keterampilan social dan kecerdasan emosional siswa. Dari hasil wawancara juga diketahui bahwa proyek ini melatih kemandirian siswa, meningkatkan keberanian dan kepercayaan diri siswa serta meningkatkan kemampuan bersosialisasi siswa.

Kami dan Global Warming

Oleh:
M. Zulkifli - siswa kelas VII SMP SMART Ekselensia Indonesia asal Medan
dan ?



Global warming adalah meningkatnya suhu permukaan bumi. Di bumi ini, sudah banyak terjadi global warming. Peristiwa dapat terjadi karena:
meningkatnya temperatur rata-rata pada permukaan bumi
meningkatnya temperatur pada air laut, dan
meningkatnya temperatur pada daratan.

Dulu, di sebuah desa terpencil yang terletak di pedalaman, ada seorang anak yang sering bermain dengan teman-temannya di pinggir laut. Bocah itu bernama Gilang. Ia bersekolah di SDN 405. Suatu hari, di sekolahnya di pelajaran IPS, bocah itu sedang mempelajari tentang masalah GLOBAL WARMING.

Ia memang siswa yang bodoh, tapi ia ingin menjadi lebih hebat dan lebih pintar dar teman-temannya. Ia berjanji, suatu saat nanti ia pasti bisa menepati semua keinginannya. Tekadnya sudah sangat bulat seperti air yang melubangi batu-batuan.

Setiap hari ia belajar, belajar danbelajar tentang masalah-masalah yang ada di bumi ini. Sampai-sampai sekarang ia telah berubah dari sebelumnya. Baginya sesuatu bisadicapai kalau engkau bersungguh-sungguh. Bocah ini akhirnya kembali bersekolah karena selama 1 tahun ia tidak bersekolah. Ia berbeda 1 kelas dengan temannya, padahal, ia sekarang seharusnya sudah kelas 1SMP. Tapi, karena tekadnya, ia rela harus turun 1 kelas.

Kepandaiannya sekarang bisa melebihi kepandaian seorang guru.
Suatu saat, guru itu memberikan penjelasan tentang masalah global warming. Dulu sewaktu ia di kelas 6, ia sangat membenci masalah itu. Tapi, sekarang ia menjadi sukarelawan. Ia maju ke depan kelas dan menjelaskannya:
“Global warming adalah sebuah peristiwa yang menyebabkan temperatur bumi semakin meningkat. Karena suhu di bumi ini semakin meningkat, mungkin kita bisa memakai efekrumah kaca. Efek rumah kaca yaitu gas yang memiliki sifat menyerap panas seperti CO2 (kabon dioksida, CH4 (metana) N2O (Nitrooklsida). Jika dampaknya sudah meningkat 1 derajat celcius maka terumbu karang akan hilang, jika sudah mencapai 6 derajat celcius, maka spesies hewan akan mendapat ancaman kepunahan”, jelasnya.

“Bagaimana cara mengurangi dampaknya, Lang?” tanya gurunya.
“Mungkin, kita bisa melakukan penanaman 1000 pohon, melestarikan hutan atau membentuk efek rumahkaca”, jawabnya. Kau hebat Gilang, kau hebat”. Temannya memberikan tepuk tangan yang meriah untuknya. Hatinya senang, rasa bangga telah mengalir di dalam tubuhnya. Sekarang ia sudah membuktikan pada temannya, bahwa sekarang ia telah bisa menggapai keinginannya.

Ia bertambah dewasa dan menjadi seorang anak yang pintar. Sekarang ia telah menjadi seorang guru IPS (sosial) di kuliahan. (dosen, red). Ia menjelaskan tentang masalah-masalah mendunia.
“Masalah-masalah mendunia itu salah satunya adalah pemanasan global, yang peristiwa itu rasanya pada pagi hari terasa sejuk, sedangkan jika siang suhunya bisa menjadi terik atau bahkan sangat panas. Desa saya itu dulu adalah desa yang sering terjadi peristiwa pemasanasan global. Temperaturnya bisa meningkat rata-rata 0.6 derajat celcius, bahkan bisa lebih tinggi hingga 1,4 –5,8 derajat celcius. Saat ini temperatur bumni rata-rata sekitar 16 derajat celcius. 
 ***
Jelasnya apa saranmu tentang masalah global warming? Saran kami adalah: sebaiknya untuk mengurangi dampak global warming adalah dengan melakukan program efek rumah kaca, penanaman 1000 pohon dan lainnya. Seluruh warga duniaharus ikut serta dalam masalah ini agar dunia bisa menjadi indah dan lestari.